Hidup adalah Perjuangan, berhenti berjuang sama dengan berhenti hidup.WordPress.com weblog

Masa Abu Bakar RA.

(Pemilihan Khalifah Pertama dan Perluasan Wilayah)

 

Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas

 Sejarah Peradaban Islam

Dosen Pengampu :

Prof. Dr. H.Akh.Fauzi Aseri, MA

Disusun Oleh  :

Muhammad Rasyidi, S.Pd.I

NIM : 11.0212.0809

MAGISTER PENDIDIKAN ISLAM

KONSENTRASI MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM

PROGRAM PASCA SARJANA

IAIN ANTASARI

BANJARMASIN

2011

Masa Abu Bakar RA.

(Pemilihan Khalifah Pertama dan Perluasan Wilayah)

  1. A.           Pendahuluan

Masa lalu perjalanan sejarah Islam merupakan belantara  luas yang banyak dari bagian-bagian sejarah perjuangan Islam itu sendiri. Ruang lingkup Sejarah Peradaban Islam yang sangat luas itu terbentang pula dalam jangka waktu yang lama, yakni sejak Nabi Muhammad saw di utus ke dunia ini,sampai estapet perjuangan penyebaran Islam itu dilanjutkan para Khulafur Rasyidin, hingga berlanjut dari Dinasti ke dinasti kekhalifahan Islam yang berbentuk monarki absolute, sampai berakahirnya masa keemasan Islam itu sendiri, dan berubah menjadi terpecah belah hingga sampai sekarang ini.

Semenjak Rasulullah saw wafat, fungsi sebagai Rasulullah tidak dapat digunakan oleh siapa pun manusia di dunia ini, karena pemilihan fungsi mutlak dari Allah SWT. Fungsi beliau sebagai kepala pemerintahan dan pemimpin masyarakat harus ada yang menggantikannya. Selanjutnya pemerintahan Islam dipimpin oleh empat orang sahabat terdekat beliau. Kepemimpinan dari para sahabat Rasul ini disebut periode Khulafa’ al-Rasyidun (para pengganti yang mendapatkan bimbingan ke jalan yang lurus). Empat khalifah tersebut adalah: (1) Abu Bakar As-Shiddiq (11-13 H/632-634 M); (2) Umar ibn Al-Khaththab (13-23 H/634-644 M); (3) ‘Utsman ibn ‘Affan (23-35 H/644-656 M); (4) Ali ibn Abi Thalib 35-40 H/656-661 M.[1]

Perkembangan Sejarah peradaban Islam sejak wafatnya Nabi Muhammad saw mulai mengalami kemajuan yang begitu pesat. Hal ini terjadi, sejak kepemimpinan Islam mulai dipegang para Khulafaur Rasyidin yang ditunjuk umat Islam langsung pada masa itu.

Pada Masa Kepemimpinan Khulafaur Rasyidin itulah Islam mulai membuka diri terhadap dunia luar dengan mengadakan beberapa perluasan wilayah kekuasaan. Para Khalifah tersebut menjalankan pemerintahan dengan bijaksana, karena dekatnya hubungan pribadi mereka dengan Nabi Muhammad saw dan otoritas keagamaan yang mereka miliki. Kekhalifahan awal ini secara politik didasarkan pada komunitas muslim Arabia dan pada kekuatan kesukuan bangsa Arab yang berhasil menundukkan imperium Timur Tengah.[2]

Meskipun hanya berlangsung 30 tahun, masa Khulafa’ al-Rasyidun adalah masa yang penting dalam sejarah Islam. Khulafa’ al-Rasyidun berhasil menyelamatkan Islam, mengkonsolidasikan dan meletakkan dasar bagi keagungan umat Islam. Terutama pada masa awal kekhalifahan Islam yang dipimpin oleh Khalifah Abu Bakar, beliau telah berhasil menyelamatkan umat Islam dari perpecahan karena masalah pergantian kepemimpinan setelah wafatnya Rasulullah. Ia juga menyelamatkan Islam dari bahaya besar orang-orang murtad dan nabi-nabi palsu, juga mempertahankan kebenaran Islam.

Demikian juga dengan Khalifah-khalifah berikutnya setelah wafatnya Khalifah Abu Bakar, mereka para khalifah yang terpilih itu telah berhasil mengkonsolidasikan Islam di Arabia. Baik Khalifah Umar, Khalifah ‘Utsman dan Khalifah Ali telah banyak berjasa dan patut dikenang karena dalam masa kepemimpinan merekalah Islam begitu dihormati dan disegani oleh pihak manapun. Kemulian Islam tetap terjaga oleh kepemimpinan para Khalia’ al-Rasyidun meskipun telah ditinggalkan dengan wafatnya Nabi Muhammad saw. Di tangan merekalah Islam tetap tegak dipondasinya, dan ajaran agama Islam pun dapat tersebar luas. Juga dengan kekuatan Islam terlihat sangat kokoh dan kuat, baik politik maupun militernya, hingga wilyah kekuasaan Islam pun mengalami perluasan wilayah yang cukup luas. Hal ini berkat andil para Khulafa’ al-Rasyidun, mereka lah awal peletak dasar kepemimpinan Islam yang benar-benar mengikuti cara kepemimpinan Rasulullah saw., sehingga Islam pada masa itu mengalami masa kejayaannya.

Oleh karena itulah, disini penulis mencoba untuk menyajikan makalah yang berhubungan dengan Masa Kejayaan Islam pada masa awal kekhalifahan Islam tersebut, terutama yang menyangkut Kepemimpinan Islam di awal-awal Kekhalifahan yang pertama itu, yakni pada masa Khalifah Abu Bakar.ra. Yang menjadi pertanyaan disini adalah bagaimana pemilihan khalifah pertama serta perluasan wilayah Islam pada masa Khalifah Abu Bakar tersebut?

Adapun batasan masalah dalam penulisan makalah ini agar lebih terarah penulis hanya menjelaskan tentang:

  1. Biografi Khalifah Abu Bakar As-Shiddiq
  2. Masa Pemilihan Khalifah yang pertama
  3. Perluasan wilayah pada masa Khalifah Abu Bakar
  1. B.            Biografi Khalifah Abu Bakar

Abu Bakar As-Shidiq adalah salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW yang mempunyai nama lengkap Abdullah Abi Quhafah At-Tamimi. Pada zaman pra Islam ia bernama Abu Ka’bah, kemudian diganti oleh Nabi SAW. menjadi Abdullah. Beliau lahir pada tahun 573 M, dan wafat pada tanggal 23 Jumadil akhir tahun 13 H bertepatan dengan bulan Agustus 634 M, dalam usianya 63 tahun, usianya lebih muda dari Nabi SAW 3 tahun. Gelar Abu Bakar  (pelopor pagi hari) diberikan Rasulullah, karena cepatnya beliau masuk Islam (al-sabiqun al-awwalun, yakni golongan pertama yang masuk Islam. Sedangkan gelar As-Shidiq  yang berarti “amat membenarkan” adalah gelar yang diberikan kepadanya lantaran dia segera membenarkan Rasulullah saw dalam berbagai peristiwa, terutama pada saat peristiwa Isra’ Mi’raj.

Dari garis kedua orang tua, Utsman bin Amir bin Amr bin Saad bin Taim bin Murrah bin Kaab bin Luayy bin Thalib bin Fihr bin Nadr bin Malik (ayah), dan Ummu Khair Salama binti Sakhar (suku Quraisy) terlihat, Abu Bakar termasuk dari suku terhormat, yakni suku Taim (ayah) dan Quraisy (ibu). Kedua suku ini banyak melahirkan orang besar.

Sejak kecil, Abu Bakar dikenal sebagai anak yang cerdas, sabar, jujur, dan lembut. Dia menjadi sahabat Nabi sejak keduanya masih usia remaja. Abu Bakar dikenal mempunyai kedudukan yang sangat istimewa di sisi Nabi Saw. Bahkan salah satu putrinya, yakni Aisyah r.a., kemudian dinikahi Rasulullah saw.[3]

Zubair bin Bakkar dan Ibnu Asakir meriwayatkan dari Ma’ruf bin Kharbudz dia berkata: Sesungguhnya Abu Bakar as-Shiddiq adalah salah seorang dari sepuluh orang Quraisy yang kejayaannya di masa Jahiliyah bersambung hingga zaman Islam.[4]

Setelah masuk Islam, beliau menjadi anggota yang paling menonjol dalam jamaah Islam setelah Nabi SAW. Masuknya Abu Bakar ke dalam Islam pun tak kalah pentingnya sebagai ‘ibrah (hikmah) kita semua. Sejak masuknya Abu Bakar ke agama terakhir ini, perjuangan dakwah Islam yang dilakukan Rasulullah semakin kuat.[5]

Adapun Abu Bakar Siddiq adalah sahabat nabi yang tertua yang amat luas pengalamannya dan amat besar ghirahnya kepada agama Islam. Dia adalah seorang bangsawan Quraisy, berkedudukan tinggi dalam kaumnya, hartawan dan dermawan. Jabatannya dikala Nabi masih hidup, selain dari seorang saudagar yang kaya, diapun seorang ahli nasab Arab dan ahli hukum yang jujur. Dialah yang menemani Nabi ketika hijrah dari Makkah ke Madinah. Dia telah merasakan pahit getirnya hidup bersama Rasulullah sampai kepada hari wafat beliau. Dialah yang diserahi nabi menjadi imam sembahyang ketika beliau sakit.[6]

Oleh karena itu, ummat Islam memandang dia lebih berhak dan utama menjadi Khalifah dari yang lainnya. Beliau terkenal karena keteguhan pendirian, kekuatan iman, dan kebijakan pendapatnya. Beliau pernah diangkat sebagai panglima perang oleh Nabi SAW., agar ia mendampingi Nabi untuk bertukar pendapat atau berunding. Seperti dikutip Jamil Ahmed dalam Seratus Muslim Terkemuka, Abu Bakar tak pernah absen dalam setiap pertempuran menegakkan kebenaran dan menumpas penindasan.[7]

Pekerjaan pokoknya adalah berniaga, sejak zaman jahiliyah sampai setelah diangkat menjadi Khalifah. Sehingga pada suatu hari beliau ditegur oleh Umar ketika akan pergi ke pasar seperti biasanya : “Jika engkau masih sibuk dengan perniagaanmu, siapa yang akan melaksanakan tugas-tugas kekhalifahan?”. Jawab Abu Bakar : “Jadi dengan apa saya mesti memberi makan keluarga saya? “. Lalu diputuskan untuk menggaji Khalifah dari baitul mal sekedar mencukupi kebutuhan sehari-hari dalam taraf yang amat sederhana.[8]

Abu Bakar memiliki empat isteri, pertama, Kutayla binti ‘Uzza yang melahirkan Abdullah dan Asma; kedua, Ummu Rumman yang melahirkan Abdurahman dan Aisyah; ketiga, Asma binti Umays yang melahirkan Muhammad bin Abi bakar; keempat, Habibah binti Kharaja yang melahirkan Ummu Kultsum.

Pengabdian Abu Bakar untuk Islam sangatlah besar. Ia menyerahkan semua harta bendanya demi kepentingan Islam. Ia selalu mendampingi Rasulullah dalam mengemban misi Islam sampai Nabi SAW wafat. Abu Bakar ikut bersama-sama nabi hijrah ke Madinah dan bersama Nabi pula bersembunyi di gua Tsur. Dari lama dan eratnya hubungan persahabatan beliau dengan Rosulullah serta kejujuran dan kesucian hatinya beliau dapat mendalami jiwa dan semangat islam lebih dari pada yang didapat orang islam lainnya, jika Nabi berhalangan, Abu Bakarlah yang disuruh menjadi Imam shalat.

Pada tahun 623 M bersama dengan hari wafatnya Rasulullah beliau diangkat menjadi khalifah setelah di bai’at oleh kaum muslimin. Setelah menjalankan tugasnya menjadi khalifah selama 2 tahun 3 bulan dan 10 hari, Abu Bakar As Siddiq meninggal pada tanggal 23 Agustus 634/ 8 Jumadil Awwal 13 H di Madinah pada usia 63 tahun. Beliau berwasiat agar jenazahnya dimandikan oleh Asma` binti Umais, istri beliau. Kemudian beliau dimakamkan di samping makam Rasulullah. Umar mensholati jenazahnya diantara makam Nabi dan mimbar (ar-Raudhah) . Sedangkan yang turun langsung ke dalam liang lahat adalah putranya yang bernama Abdurrahman (bin Abi Bakar), Umar bin Khattab, Usman bin Affan, dan Thalhah bin Ubaidillah.[9]

  1. C.           Masa Pemilihan Khalifah Yang Pertama

Khilafah Rasyidah merupakan para pemimpin ummat Islam setelah Nabi Muhammad SAW wafat, yaitu pada masa pemerintahan Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib. Radhiallahu Ta’ala anhu ajma’in., dimana sistem pemerintahan yang diterapkan adalah pemerintahan yang islami karena berundang-undangkan dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Selama kehidupannya, Nabi Muhammad saw telah menjalankan perannya sebagai nabi, pembuat hukum, pemimpin agama, hakim, komandan pasukan dan kepala pemerintahan sipil-semuanya menyatu dalam diri Nabi Muhammad saw. Namun kini Nabi saw telah tiada. Siapakah yang akan menjadi penggantinya (khalifah), dalam berbagai peran selain kenabian? Dalam perannya sebagai nabi terakhir dan terbesar, yang telah menyampaikan wahyu terakhir kepada manusia, jelas Nabi saw tidak memiliki penerus.

Nabi juga tidak meninggalkan anak laki-laki. Hanya anak perempuan, Fathimah, istri Ali, yang menjadi ahli warisnya. Meski demikian, kepemimpinan bangsa Arab tidak diwariskan, tapi dipilih berdasarkan senioritas dalam suku.[10]

Ketika Nabi Muhammad s.a.w. akan wafat, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wasallam tidak meninggalkan wasiat tentang siapa yang akan menggantikan beliau Shallallahu ‘Alaihi wasallam sebagai pemimpin politik umat Islam setelah beliau Shallallahu ‘Alaihi wasallam wafat. Ia Shallallahu ‘Alaihi wasallam nampaknya menyerahkan persoalan tersebut kepada kaum muslimin sendiri untuk menentukannya.

Akibatnya, setelah beliau wafat, masalah kekhalifahan merupakan masalah pertama yang harus dihadapi umat Islam. Karena itulah, tidak lama setelah beliau Shallallahu ‘Alaihi wasallam wafat; belum lagi jenazahnya dimakamkan, sejumlah tokoh Muhajirin dan Anshar berkumpul di balai kota Bani Sa’idah, Madinah. Mereka memusyawarahkan siapa yang akan dipilih menjadi pemimpin. Musyawarah itu berjalan cukup alot karena masing-masing pihak, baik Muhajirin maupun Anshar, sama-sama merasa berhak menjadi pemimpin umat Islam. Orang Anshar menghendaki agar Khalifah itu dipilih dari golongan mereka, mereka mengajukan Sa’ad bin Ubadah. Kehendak orang Anshar ini tidak disetujui oleh orang Muhajirin. Maka terjadilah perdebatan diantara keduanya, dan hampir terjadi fitnah diantara keduanya.[11] Pada waktu itu terdapat tanda-tanda bahwa sejumlah suku yang tergabung dalam persemakmuran Madinah mulai resah dan berusaha menuntut kembali kebebasan mereka untuk berbuat. Jelas bahwa suku Khazraj di madinah menyadari akan kemungkinan terjadinya perang saudara ini, sebab  pada sore hari setelah wafatnya Nabi saw mereka berkempul untuk mengambil keputusan tentang masalah kepemimpinan ini yang boleh jadi akan mengajukan Sa’ad bin Ubadah sebagi pemimpin di Madinah. Pertemuan ini merupakan tantangan besar terhadap keutuhan Madinah sendiri yang ketika itu masih rapuh, sebab hal itu bisa membuka kembali permusuhan antara suku Khazraj  dan suku ‘Aus.

Situasi ini membahayakan umat Islam di Madinah sehingga masalah pergantian pimpinan ini dicoba diselesaikan pada hari wafatnya Nabi saw itu bahkan lebih diprioritaskan daripada masalah pemakaman Nabi saw. Akhirnya, muncullah Abu Bakar sebagai calon yang secara umum diterima. Dengan berbagai alasan dia memang merupakan pilihan ideal. Dialah orang pertama yang menjadi sahabat Nabi dan juga dialah orang yang memahami jalan pikiran beliau.[12] Abu Bakar segera berdiri dan berpidato menyatakan dengan alasan yang kuat dan tepat, bahwa soal Khilafah itu adalah hak bagi kaum Quraisy, bahwa kaum Muhajirin telah lebih dahulu masuk Islam, mereka lebih lama bersama bersama Rasulullah, dalam Al-Qur’an selalu didahulukan Muhajirin kemudian Anshar. Khutbah Abu Bakar ini dikenal dengan Khutbah Hari Tsaqifah, setelah khutbah ini ummat Islam serta merta membai’at Abu Bakar, dengan semangat ukhuwah Islamiyah yang tinggi, akhirnya, Abu Bakar Radhiallahu ‘anhu terpilih. Rupanya, semangat keagamaan Abu Bakar Radhiallahu ‘anhu mendapat penghargaan yang tinggi dari umat Islam, sehingga masing-masing pihak menerima dan membaiatnya, didahului oleh Umar bin Khattab, kemudian diikuti oleh para sahabat yang lain.

Abu bakar memangku jabatan khalifah berdasarkan pilihan yang berlangsung sangat demokratis di Muktamar Tsaqifah Bani Sa’idah, memenuhi tata cara perundingan yang dikenal dunia modern saat ini. Kaum Anshar menekankan pada persyaratan jasa (merit), mereka mengajukan calon Sa’adbin Ubadah. Kaum Muhajirin menekankan pada syarat kesetiaan, mereka mengajukan calon Abu Ubaidah bin Jarrah. Sementara itu dari Ahlul Bait menginginkan agar Ali bin Abi halib menjadi khalifah atas dasar kedudukannya dalam Islam, juga sebagai menantu dan karib Nabi. Hampir saja perpecahan terjadi bahkan adu fisik. Melalui perdebatan dengan beradu argumentasi, akhirnya diambillah jalan tengah dengan dipilihnya Abu Bakar sebagai khalifah dan telah disetujui oleh jama’ah kaum muslimin untuk menduduki jabatan khalifah tersebut.[13]

Terpilihnya Abu Bakar menunjukkan kesadaran politik yang baik dalam ummah, dan cepatnya pemilihan itu dirampungkan menunjukkan bukti kuat bahwa mereka bertekad untuk bersatu dan melanjutkan tugas Nabi Muhammad saw. Dia terpilih untuk mempertahankan status quo, memelihara semua karya yang dilakukan oleh Nabi Muhammad saw dan memanfaatkannya.[14]

Sebagai pemimpin umat Islam setelah Rasul, Abu Bakar Radhiallahu ‘anhu disebut Khalifah Rasulillah (Pengganti Rasul Allah) yang dalam perkembangan selanjutnya disebut khalifah saja. Khalifah adalah pemimpin yang diangkat sesudah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wasallam wafat untuk menggantikan beliau Shallallahu ‘Alaihi wasallam melanjutkan tugas-tugas sebagai pemimpin agama dan kepala pemerintahan.[15]

Abu Bakar ra, menjadi khalifah hanya dua tahun. Pada tahun 634 M ia meninggal dunia. Masa sesingkat itu habis untuk menyelesaikan persoalan dalam negeri terutama tantangan yang disebabkan oleh suku-suku bangsa Arab yang tidak mau tunduk lagi kepada pemerintah Madinah sepeninggal Rasulullah saw. Mereka menganggap bahwa perjanjian yang dibuat dengan Nabi Muhammad saw, dengan sendirinya batal setelah Nabi saw wafat. Karena itu mereka menentang Abu Bakar ra. Karena sikap keras kepala dan penentangan mereka yang dapat membahayakan agama dan pemerintahan, Abu Bakar ra menyelesaikan persoalan ini dengan apa yang disebut Perang Riddah (perang melawan kemurtadan). Khalid ibn Al-Walid ra, adalah panglima yang banyak berjasa dalam Perang Riddah ini.

Nampaknya, kekuasaan yang dijalankan pada masa Khalifah Abu Bakar ra, sebagaimana pada masa Rasulullah saw, bersifat sentral; kekuasaan legislatif, eksekutif dan yudikatif terpusat di tangan khalifah. Selain menjalankan roda pemerintahan, Khalifah juga melaksanakan hukum yang telah ditetapkan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Meskipun demikian, seperti juga Nabi Muhammad saw, Abu Bakar ra, selalu mengajak sahabat-sahabat besarnya bermusyawarah.

Pada saat Abu Bakar ra. meninggal dunia, sementara barisan depan pasukan Islam sedang mengancam Palestina, Irak, dan kerajaan Hirah. Ia diganti oleh “tangan kanan” nya, Umar ibn Khatthab al-Faruq ra. Ketika Abu Bakar ra. sakit dan merasa ajalnya sudah dekat, ia bermusyawarah dengan para pemuka sahabat, kemudian mengangkat Umar ibn Khatthab ra. sebagai penggantinya dengan maksud untuk mencegah kemungkinan terjadinya perselisihan dan perpecahan di kalangan umat Islam. Kebijaksanaan Abu Bakar.ra tersebut ternyata diterima masyarakat yang segera secara beramai-ramai membaiat Umar ra. Umar ra. menyebut dirinya Khalifah Rasulillah (pengganti dari Rasulullah). Ia juga memperkenalkan istilah Amir al-Mu’minin (petinggi orang-orang yang beriman).[16]

ü  Keberhasilan Yang Dicapai Masa Khalifah Abu Bakar R.A

Sistem pemerintahan yang dijalankan Abu Bakar bersifat sentralistrik, sama seperti zaman Nabi Muhammad saw, yakni kekuasaan eksekutif, legislatif, dan yudikatif tepusat disatu tangan selama kepemimpinananya yang berlangsung relative singkat yaitu 2 tahun 3 bulan 10 hari dan Abu Bakar mencapai keberhasilan sebagai berikut: [17]

  1. Perang Riddah

Segera setelah menjabat Abu Bakar As Siddiq, beberapa masalah yang mengancam persatuan dan stabilitas komunitas dan negara Islam saat itu muncul. Beberapa suku Arab yang berasal dari Hijaz dan Nejed membangkang kepada khalifah baru dan sistem yang ada. Beberapa diantaranya menolak membayar zakat walaupun tidak menolak agama Islam secara utuh. Beberapa yang lain kembali memeluk agama dan tradisi lamanya yakni penyembahan berhala. Suku-suku tersebut mengklaim bahwa hanya memiliki komitmen dengan Nabi Muhammad SAW dan dengan kematiannya komitmennya tidak berlaku lagi. Berdasarkan hal ini Abu Bakar menyatakan perang terhadap mereka yang dikenal dengan nama perang Riddah.

Dalam perang Riddah peperangan terbesar adalah memerangi “Ibnu Habib al-Hanafi” yang lebih dikenal dengan nama Musailamah Al-Kazab (Musailamah si pembohong), yang mengklaim dirinya sebagai nabi baru menggantikan Nabi Muhammad SAW. Musailamah kemudian dikalahkan pada pertempuran Akraba oleh Khalid bin Walid.

  1. Kondifikasi Al-Qur’an

Abu Bakar As Siddiq juga berperan dalam pelestarian teks-teks tertulis Al Qur’an. Dikatakan bahwa setelah kemenangan yang sangat sulit saat melawan Musailamah dalam perang Riddah, banyak penghafal Al Qur’an yang ikut tewas dalam pertempuran. Abu Bakar As Siddiq meminta Umar bin Khattab untuk mengumpulkan koleksi dari Al Qur’an. Setelah lengkap teks ini, yang dikumpulkan dari para penghafal Al-Quran dan tulisan-tulisan yang terdapat pada media tulis seperti tulang, kulit dan lain sebagainya, oleh sebuah tim yang diketuai oleh sahabat Zaid bin Tsabit, kemudian disimpan oleh Hafsah, anak dari Umar bin Khattab dan juga istri dari Nabi Muhammad SAW. Kemudian pada masa pemerintahan Ustman bin Affan koleksi ini menjadi dasar penulisan teks al Qur’an hingga yang dikenal hingga saat ini.

  1. Munculnya Nabi Palsu

Api perlawanan dan pendurhakaan itu menjalr dengan cepat dari satu suku kepada yang lain, sehingga hampir menggoyahkan sendi khilafah Islam yang masih muda itu. Kekuasah khalifah ketika itu hanya meliputi Makkah, Madinah dan Taif saja. Sementara itu banyak pula diantara orang Arab yang mendakwakan dirinya menjadi Nabi. Yang berbahaya sekali adalah Musailamah al-Kazzab, yang mendakwakan kenabiannya bersama Nabi Muhammad ketika beliau masih hidup. Dia mengatakan, bahwa Allah telah memberikan pangkat nabi kepadanya bersama dengan Rasulullah saw.

Oleh karena dia berbuat dusta itu, dia mendapat gelar ‘al-Kazzab’ yang artinya ‘si pendusta’. Bengikutnya banyak yang tersebar di Yamamah. Ladi dari pada itu ada lagi beberapa nabi palsu, seperti Thulaihah bin Khuwailid, Sjah Thamiyah seorang perempuan, yang kemudian kawin dengan Musailamah.

  1. Memerangi Orang-orang Murtad

Peristiwa suli yang hebat ini diatasi Abu Bakar dengan kemauan dan perhatian keras membaja. Dengan cepat disiapkannya sebelas pasukan untuk menaklukkan kaum yang murtad itu. Masing-masing panglimanya diperintahkan menuju daerah yang telah ditentukan.

Sesungguhnya beberapa orang sahabat menasehati kepada Abu Bakar agar dia tidak memerangi orang yang tidak membayar zakat itu. Namun disinilai keteguhan hati khalifah. Dia mengatakan: “Dengan sesungguhnya, walaupun mereka enggan membayar seutas tali kecil yang telah pernah dibayarkan kepada Rasulullah dahulu, niscaya akan kuperangi juga mereka selaipun aku akan binasa oleh karenanya.”

  1. Memerangi orang-orang yang tidak mau membayar zakat
  2. Ketelitian Khalifah Abu Bakar dalam menangani orang-orang yang menolak membayar zakat.

Beliau memutuskan untuk memberantas dan menundukkan kelompok tersebut dengan serangan yang gencar sehingga sebagian mereka menyerah dan kembali pada  ajaran Islam yang sebenarnya. Dengan demikian Islam dapat diselamatkan dan zakat mulai mengalir lagi dari dalam maupun dari luar negeri.

D.     Perluasan Wilayah

Setelah dalam negeri stabil, Abu Bakar meneruskan rencana Rasulullah yang belum terlaksana yaitu mengadakan peperangan dengan Persia dan Byzantium karena kasus Bendhi. Semenanjung Arab kini disatukan dibawah kekuasaan Abu Bakar melalui pedang Khalid ibnu al-Walid. semangat perang berbagai suku, yang kini telah dipersatukan ke dalam sebuah persaudaraan, harus menemukan sarana untuk menegaskan dirinya.[18]

Hal ini bisa dilihat bagaimana usaha yang dilakukan oleh khalifah Abu Bakar dalam memperluas wilayah kekuasaan Islam pada masanya, diantaranya dengan penaklukan Irak dan Persia, dan juga penaklukan Syiria (Suriah)

  1. 1.      Penaklukan Irak dan Persia

Setelah menyelesaikan urusan perang dalam negeri, barulah Abu Bakar ra. mengirim kekuatan ke luar Arabia. Semula beberapa kelompok suku kecil bertempur untuk mendapatkan harta rampasan, tetapi penyerbuan Arab memaksa Byzantium untuk mengirimkan ekspedisi utama ke palestina Selatan. Beberapa kelompok penyerbu harus memusatkan kekuatan timurnya di Ghaza, dan disini di bawah Khalid ibn Walid dibantu oleh Al-Mutsannah ibn Haritsah ra. yang dikirim oleh Abu Bakar ke Iraq untuk menjadi komandan bagi klan Arab, mereka mengalahkan pasukan Byzantium dalam peperangan Ajnadyn (634 M) dan mereka mampu memenangkan peperangan dan membuka Hirah serta beberapa kota di Irak. Di antaranya adalah Anbar, Daumatul Jandal, Faradh, dan yang lainnya.[19]

Dan Akhirnya dapat menguasai sepenuhnya wilayah al-Hirah di tahun 634 M.[20] Setelah itu khalifah Abu Bakar memerintahkan kepada Khalid bin Walid untuk bergabung dengan pasukan Islam yang ada di Syam.

Ketika Khalid melakukan manuver ke arah barat dari Hirah pada tahun 634 M, ia meninggalkan kekuasaan atas Irak pada sekutunya dari suku badui, al-Mutsannah ibn Haritsah, kepala suku Banu Syaiban. Karena ia menerima perintah dari Khalifah Abu Bakar untuk membantu memperkuat pasukan di Syam. Sementara itu orang-orang Persia sedang bersiap-siap untuk melancarkan serangan balasan dan hampir menghancurkan pasukan Arab dalam pertempuran di jembatan[21] dekat Hirah, pada 26 November 634. Tanpa rasa takut, al-Mutsannah membangun serangan baru, dan pada bulan Oktober atau November tahun berikutnya berhasil mengalahkan pasukan jenderal Persia, Mihran, di al- Buwayb di tepi sungai efrat. Tetapi al-Mutsanna tidak lebih dari seorang kepala suku, yang tidak punya hubungan kekuasaan dengan Madinah atau Mekkah, dan baru masuk Islam setelah Nabi wafat. Karena itu ketika khalifah Abu Bakar telah tiada dan digantikan oleh Khalifah Umar, beliau mengutus Sa’ad ibn Abi Waqqash, seorang sahabat yang dijanjikan masuk surga oleh Nabi Muhammad, sebagai komando pasukan dan mengirimkannya ke Irak. Di bawah komando Sa’ad ibn Abi Waqqash inilah peperangan yang di lakukan Umat Islam mengalami kemenangan dan berhasil menaklukan wilayah Irak dan Persia sepenuhnya pada tahun 652 M[22].

Dengan demikian wilayah Irak dan Persia telah berhasil dikuasai pasukan Arab dibawah komando Khalid ibn al-Walid dan dilanjutkan oleh Sa’ad ibn Abi Waqqash pada masa kekhalifahan Umar ibn Khaththab.

  1. 2.      Penaklukan Islam di Syria

Penaklukan ini terjadi pada paruh pertama abad ke-7, dimana wilayah ini sudah dikenal sebelumnya dengan nama lain seperti Bilad al-Sham, Levant, atau Suriah Raya. Sebenarnya pasukan Islam sudah berada di perbatasan selatan beberapa tahun sebelum Nabi Muhammad SAW meninggal dunia tahun 632 M, seperti terjadinya pertempuran Mu’tah di tahun 629 M, akan tetapi penaklukan sesungguhnya baru dimulai pada tahun 634 M dibawah perintah Kalifah Abu Bakar and Umar bin Khattab, dengan Khalid bin Walid sebagai panglima utamanya.

Suriah dibawah pemerintahan Romawi timur selama 7 abad sebelum Islam datang, juga pernah di invasi beberapa kali oleh Kekaisaran Sassania Persia yaitu pada abad ke-3, 6 dan 7; Suriah juga menjadi target serangan sekutu Sassania, Lakhmid. Wilayah ini disebut Provinsi Iudaea oleh Bizantium. Selama perang Romawi-Persia terakhir, yang dimulai pada tahun 603, pasukan Persia dibawah pimpinan Khisra II berhasil menduduki Suriah, Palestina and Mesir selama lebih dari satu dekade sebelum akhirnya berhasil dipukul mundur oleh Heraclius dan dipaksa berdamai dan mundur dari wilayah yang mereka kuasai itu pada tahun 628 M. Jadi, pada saat Islam berperang melawan Romawi ini sebenarnya mereka sedang menata kembali wilayahnya yang sempat hilang selama kurang lebih 20 tahun tersebut.[23]

Ekspansi pun dilakukan oleh Khalifah Abu Bakar dalam penaklukan  wilayah Syiria dengan mengirimkan ekspedisi pasukan yang dipimpin empat orang jendral dikirim ke Syam (Syria) yang menjadi jajahan Romawi (Byzantium) yaitu Abu Ubaidillah ibn Jarrah (pimpinan tertinggi empat pasukan) ke Hims, Yazid ibn Abi Sufyan ke Damaskus, Amr ibn Ash ke Palestina dan Syurahbil ibn Hasanah ke lembah Yordania. Sebelumnya pasukan dipimpin oleh Usamah ibn Zaid ra. yang masih berusia 18 tahun Melihat pasukan yang menang hanya Amr ibn Ash di perbatasan Palestina, Abu Bakar menyatukan pasukan menghadapi laskar Romawi di Yamuk. Jendral Khalid ibn al-Walid pun di perintahkan meninggalkan Irak untuk memperkuat memperkuat pasukan di Syam, melalui gurun pasir yang jarang dijalani, ia sampai ke Syria. Khalid baru sampai di Syam setelah melakukan perjalanan panjang selama 18 hari. Maka, bergabunglah kaum muslimin hingga mencapai 26.000 personel. Dia kemudian mengatur pasukannya dan membaginya dalam beberapa divisi.

Pertempuran ini terjadi di sebuah pinggiran sungaiYordania yang disebut Yarmuk. Maka, berkecamuklah perang dengan sangat sengitnya. Beliau memimpin pasukan berkekuatan 26.000 personil menghadapi tentara Romawi berkekuatan lebih dari 100.000 dibawah panglima Theodore, saudara Heraklius, di pertempuran itu, tentara islam memperoleh kemenangan, mencoreng muka dan memalukan Heraklius sehingga beliau meninggalkan Hims, melarikan diri ke Anthakiah, saat Khalid ibn al-Walid dan pasukannya memenangkan perang di Ajnadain.[24] Pada saat perang sedang berkecamuk dengan sengitnya, datang kabar bahwa Khalifah Abu Bakar meninggal dunia dan Umar menjadi penggantinya. Khalid di turunkan dari posisinya sebagai panglima dan segera diganti oleh Abu Ubaidah Ibnu-Jarrah. Peristiwa ini terjadi pada bulan Jumadil Akhir tahun 13 H/634 M.

Satu hal yang perlu dicatat dari peristiwa di atas yang mengundang decak kagum dan rasa kebanggaan adalah sikap Khalid bin Walid. Tatkala dia dinyatakan diturunkan dari posisinya sebagai panglima perang, dia menerimanya dengan lapang dada dan penuh rela. Padahal, saat itu dia sedang berada di puncak kemenangan yang sangat gemilan. Lebih hebatnya lagi dia terus berperang dengan serius dan ikhlas di bawah pimpinan panglima baru. Hal serupa juga pernah dilakukan oleh Abu Ubaidah tatkala dia menerima dengan lapang dada tatkala dia diturunkan dari posisinya sebagai panglima perang oleh Abu Bakar dan digantikan oleh Khalid bin Walid.

Ini merupakan sebuah peristiwa dalam sejarah Islam yang sangat indah dan akan sangat senantiasa dikenang sepanjang zaman.

Sedikitnya penaklukan di masa Khalifah Abu Bakar kami lihat terjadi karena adanya beberapa sebab berikut ini : [25]

  1. Pendeknya masa pemerintahan Abu Bakar yang hanya berusia 2 tahun 3 bulan.
  2. Karena dia disibukan dengan perang orang-orang murtad yang meliputi seluruh Jazirah Arab.
  3. Walau demikian, peperangan-peperangan yang terjadi di masa pemerintahannya dalam melawan orang-orang Romawi dan Persia telah berhasil menakutkan musuh-musuh Islam dan sekaligus mampu menunjukan kekuatan kaum muslimin.

Operasi-operasi militer yang kemudian dilakukan oleh Khalid ibn Walid dan Amr ibn Ash di Irak, Syiria dan Mesir, termasuk yang paling gemilang dalam sejarah ilmu perang dan tidak kalah jika disbanding Napoleon, Hannibal atau Iskandar Zulkarnaen.

Di antara sebab-sebab yang membuat ekspansi Islam berhasil dengan cepat adalah;[26]

  1. Ajaran-ajaran Islam mencakup kehidupan di dunia dan akhirat dengan kata lain Islam adalah agama dan Negara.
  2. Keyakinan yang mendalam di hati para sahabat tentang kewajiban menyampaikan ajaran-ajaran Islam ke seluruh daerah.
  3. Kekaisaran Persia dan Byzantium dalam keadaan lemah.
  4. Islam tidak memaksa rakyat di wilayah perluasan untuk mengubah agamanya.
  5. Rakyat tidak senang (tertindas) oleh penguasa Persia dan Byzantium Timur.
  6. Rakyat di wilayah tersebut memandang bangsa Arab lebih dekat kepada mereka daripada Byzantium.
  7. Wilayah perluasan adalah wilayah yang paling subur.
  1. E.            Penutup

Dari penjelasan yang terurai diatas, dapat disimpulkan bahwasanya Khalifah Abu Bakar Al–Shiddiq adalah seorang pemimpin yang tegas, adil dan bijaksana. Selama hayat hingga masa-masa menjadi Khalifah,Abu Bakar dapat dijadikan teladan dalam kesederhanaan,kerendahan hati, kehati-hatian, dan kelemah lembutan pada saat dia kaya dan memiliki jabatan yang tinggi. Ini terbukti dengan keberhasilan beliau dalam menghadapi dan mengatasi berbagai kerumitan yang terjadi pada masa pemerintahannya tersebut. Beliau tidak mengutamakan pribadi dan sanak kerabatnya, melainkan mengutamakan kepentingan rakyat dan juga mengutamakan masyarakat/ demokrasi dalam mengambil suatu keputusan.

Akhirnya perlu dipahami bahwa suatu kehidupan dakwah senantiasa penuh dengan tantangan. Sebagai seorang Muslim hendaklah menghadapinya dengan tanpa putus asa, penuh kesabaran, kebijakan dan ketentraman hati, juga memohon kepada-Nya serta lebih mempererat ukhuwah Islamiyyah, agar tercipta suatu tatanan masyarakat yang aman, damai, sentosa dan sejahtera dengan persatuan dan kesatuan yang kokoh.

DAFTAR PUSTAKA

 

Abdurrahman, Dudung [et.al.], Sejarah Peradaban Islam_Dari Masa Klasik Hingga Modern, Cet.ke-2, Lesfi, Yogyakarta, 2004.

As-Suyuti, Imam Tarikh Khulafa’_Sejarah Para Penguasa Islam, (diterjemahkan oleh Samson Rahman dari kitab aslinya Tarikh Al-Khulafa’), Cet. Ke-2, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta, 2003.

Lapidus, Ira M., Sejarah Sosial Umat Islam. (diterjemahkan oleh Ghufron A. Mas’adi dari buku aslinya berjudul A History of Islamic Societies)., PT RajaGrafindo Persada, Jakarta, Cet. Kedua, 2000.

Philip K. Hitti, History of The Arabs. Penj. Dedi Slamet Riyadi dan R. Cecep Lukman Yasin., PT Serambi Ilmu Semesta, Jakarta, Cet. Kesatu, 2008.

Sucipto, Hery. Ensiklopedi Tokoh Islam, Cet. ke-1, Jakarta: Hikmah, 2003

Shaban, M.A., Sejarah Islam (600-700): Penafsiran Baru. (diterjemahkan oleh Drs. Machnun Husein dari buku aslinya berjudul Islamic History,A.D. 600-750 (A.H.132) : A New Interpretation)., PT RajaGrafindo Persada, Jakarta, Cet. Kesatu, 1993,

W.Montgomery Watt, Islamic Political Thought, Edinburg, 1968.

http://id.wikipedia.org/wiki/Penaklukan_Islam_di_Suriah, accesed, 19 September 2011.

http://file.upi.edu/Direktori/FPBS/JUR._PEND._BAHASA_ARAB/196503141992031-TATANG/Tarikh_Islam/%282%29_Sejarah_Khulafaurrasyidin.pdf., accesed, 23 September 2011.

http://id.wikipedia.org/wiki/Khulafaur_Rasyidin, accesed, 19 September 2011

http://mediaanakindonesia.wordpress.com/2011/03/21/6853/, accesed, 19 September 2011.

 

http://darunnajah-cipining.com/sejarah-dunia-islam-masa-khalifah-pertama-abu-bakar-as-shiddiq/ accesed, 19 September 2011.

 

http://www.scribd.com/doc/40051835/Islam-Masa-Khulafaur-Raosyidin, accesed, 19 September 2011

http://munzdirtamam.blogspot.com/2011/04/khalifah-abu-bakar-ash-sidiq-dan-umar.html, accesed, 19 September 2011


[1] Dudung Abdurrahman [et.al.], Sejarah Peradaban Islam_Dari Masa Klasik Hingga Modern, Cet. ke-2 (Yogyakarta: Lesfi, 2004), h. 43.

[2] Ibid., h. 43

[3] Hery Sucipto, Ensiklopedi Tokoh Islam, Cet. ke-1 (Jakarta: Hikmah, 2003), h. 3-4.

[4] Imam As-Suyuti, Tarikh Khulafa’_Sejarah Para Penguasa Islam, Penj. Samson Rahman., Cet. Ke-2 (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2003), h. 33.

[5] Hery Sucipto, op.cit., h. 6.

[7] Hery Sucipto, op.cit., h. 4.

[10] Philip K. Hitti, History of The Arabs. Penj. Dedi Slamet Riyadi dan R. Cecep Lukman Yasin., Cet. Ke-1 (Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta, 2008), h. 174.

[12] M.A. Shaban, Sejarah Islam (600-700): Penafsiran Baru. Penj. Drs. Machnun Husein., Cet. Ke-1 (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 1993), h. 23-25.

[13] Dudung Abdurrahman [et.al.], op.cit., h. 45.

[14] M.A. Shaban, op.cit., h. 25.

[15] Definisi khalifah yang paling jelas adalah “orang yang mengambilalih kedudukan orang lain setelah meninggalndalam beberapa hal. “Lihat W.Montgomery Watt, Islamic Political Thought (Edinburg, 1968). h.32

[18] Philip K. Hitti, op.cit., h. 177-175.

[20] Ira M. Lapidus, Sejarah Sosial Umat Islam. Penj. Ghufron A. Mas’adi., Cet. Ke-2 (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2000), h. 58.

[21] Di seberang sungai Efrat. Baladhuri, h. 251-251; al-Thabari, jilid I, h. 2194-2201.

[22] Philip K. Hitti, op.cit., h. 194-197.

[26] Dudung Abdurrahman [et.al.], op.cit., h. 52- 53.

 

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: