Hidup adalah Perjuangan, berhenti berjuang sama dengan berhenti hidup.WordPress.com weblog

UPAYA PEMELIHARAAN OTENTISITAS AL-QUR’AN

PADA MASA RASULULLAH

 

Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas

Mata Kuliah Ulumul Qur’an

 

Dosen Pengampu :

Prof. Dr. H.A.Athaillah, M.Ag

Disusun Oleh  :

Muhammad Rasyidi, S.Pd.I

NIM : 11.0212.0809

MAGISTER PENDIDIKAN ISLAM

KONSENTRASI MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM

PROGRAM PASCA SARJANA

IAIN ANTASARI

BANJARMASIN

2011

UPAYA PEMELIHARAAN OTENTISITAS AL-QUR’AN

PADA MASA RASULULLAH

  1. A.      Pendahuluan

Al-Qur’an Karim adalah mukjizat Islam yang kekal dan mukzizatnya selalu diperkuat oleh kemajuan ilmu pengetahuan. Ia diturunkan Allah kepada Rasulullah, Muhammad s.a.w. untuk mengeluarkan manusia dari suasana yang gelap menuju yang terang, serta membimbing mereka ke jalan yang lurus. Rasulullah s.a.w. menyampaikan Al-Qur’an itu kepada para sahabatnya  – orang-orang Arab asli – sehingga mereka dapat memahaminya berdasarkan naluri mereka. Apabila mereka mengalami ketidakjelasan dalam memahami suatu ayat, mereka menyakan kepada Rasulullah s.a.w.

Rasulullah s.a.w. tidak mengizinkan para sahabat menuliskan sesuatu dari dia selain Al-Qur’an, karena ia khawatir Al-Qur’an akan tercampur dengan yang lainnya.

Sekalipun sesudah itu Rasulullah s.a.w. mengizinkan kepada sebagian sahabat untuk menulis hadis, tetapi hal yang berhubungan dengan Qur’an tetap didasarkan pada riwayat yang melalui petunjuk di zaman Rasulullah s.a.w., di masa kekhalifahan Abu Bakar dan Umar r.a.

Al-Qur’an Al-Karim memperkenalkan dirinya dengan berbagai ciri dan sifat. Salah satu di antaranya adalah bahwa ia merupakan kitab yang keotentikannya dijamin oleh Allah, dan ia adalah kitab yang selalu dipelihara. Sebagaimana Firman Allah ta’la yang berbunyi :

$¯RÎ) ß`øtwU $uZø9¨“tR tø.Ïe%!$# $¯RÎ)ur ¼çms9 tbqÝàÏÿ»ptm: ÇÒÈ

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan Sesungguhnya kami benar-benar memeliharanya.”[1](QS 15:9)

Demikianlah Allah menjamin keotentikan Al-Qur’an, jaminan yang diberikan atas dasar Kemahakuasaan dan Kemahatahuan-Nya, serta berkat upaya-upaya yang dilakukan oleh makhluk-makhluk-Nya, terutama oleh manusia. Dengan jaminan ayat di atas, setiap Muslim percaya bahwa apa yang dibaca dan didengarnya sebagai Al-Qur’an tidak berbeda sedikit pun dengan apa yang pernah dibaca oleh Rasulullah s.a.w., dan yang didengar serta dibaca oleh para sahabat Nabi s.a.w.

Jadi, yang menjadi pertanyaan di sini adalah bagaimana sebenarnya keadaan al-Qur’an itu sendiri pada masa Rasulullah s.a.w., dalam upayanya untuk menyelamatkan kemurnian (keotentikan) kitab suci tersebut?

Adapun batasan masalah dalam penulisan makalah ini agar lebih terarah penulis hanya menjelaskan tentang:

(1)   Al-Qur’an pada masa Rasulullah,

(2)   Keotentikan Al-Qur’an,

(3)   Upaya pemeliharaan otentisitas al-Qur’an pada masa Rasulullah.

  1. B.       Al-Qur’an Pada Masa Rasulullah. S.A.W

Setiap kali ayat-ayat Al-Qur’an diturunkan kepada Rasulullah saw., beliau segera menyampaikannya kepada para sahabatnya seperti yang telah beliau terima dari malaikat Jibril, tanpa perubahan, pengurangan dan penambahan sedikit pun. Disamping itu, Rasulullah saw juga menganjurkan kepada para sahabat yang telah menerimanya untuk menyampaikannya lagi kepada para sahabat lain yang belum mendengarnya secara langsung dari beliau, terutama kepada para anggota keluarga mereka, para tetangga dan handai tolan yang telah memeluk Islam, sesuia sabda beliau:

بَلِغُوا عَنِّى وَلَوْ آيَة

“sampaikanlah apa saja yang telah kalian peroleh dari aku, walaupun satu ayat.”

Melalui cara yang telah ditempuh oleh Rasulullah saw itu, maka semua ayat al-Qur’an dan seluruh ajaran yang terkandung di dalamnya dapat diketahui dan diamalkan oleh para sahabat secara merata meskipun  tidak semua mereka pernah mendengarnya secara langsung dari beliau. Bahkan setelah semua ayat al-Qur’an diturunkan selama 22 tahun 2 bulan 22 hari atau tepatnya menjelang beliau wafat semua ajaran al-Qur’an itu telah diimani dan diamalkan oleh semua orang yang hidup di jazirah Arab. Semua struktur, tatanan dan konstalasi kehidupan mereka mengalami perubahan, sesuai dengan yang diajarkan oleh al-Qur’an, baik yang berkenaan dengan kepercayaan maupun sikap, kekeluargaan, pergaulan, kemasyarakatan, dan sebagainya. Sebelum wafat beliau telah berpesan kepada kaum Muslim. [2]

تَرَكَت فِيْكُمْ شيئين لَنْ تَضَلُّوا بعد هما كتاب الله وسنتى

“Aku telah meninggalkan pada kalian dua macam (selama kalian berpegang teguh pada keduanya, maka) kalian tidak akan pernah tersesat (selama-lamanya, yaitu) kitab Allah (al-Qur’an) dan Sunnahku.”

  1. 1.      Hari pertama turun Al Quran

Al Quran mulai diturunkan kepada nabi Muhammad SAW ketika nabi sedang berkhulawat di gua Hira pada malam Senin yang bertepatan dengan tanggal 17 Ramadhan tahun 41 dari kelahiran nabi Muhammad SAW = 6 Agustus 610 M.

Sesuai dengan kemuliaan dan kebesaran al Quran, Allah jadikan malam permulaam turun Al Quran itu malam “Al Qadar”, yaitu malam suatu yang tinggi kadarnya. Hal ini diakui oleh Al Quran sendiri.

Tak ada perselisihan antara para ulama dalam menetapkan bahwa malam mulai Al-Quran diturunkan adalah dibulan Ramadhan. Ketetapan ini ditegasakan juga oleh Al-Quran sendiri. Semua ulama mufakat menetapkan yang demikian, hanya mereka berlainan faham tentang ketentuan tanggal.

  1. 2.      Ayat-ayat yang Mula-mula Diturunkan

$pkš‰r’¯»tƒ ãÏoO£‰ßJø9$# ÇÊÈ   óOè% ö‘É‹Rr’sù ÇËÈ   y7­/u‘ur ÷ŽÉi9s3sù ÇÌÈ   y7t/$u‹ÏOur öÎdgsÜsù ÇÍÈ   t“ô_”9$#ur öàf÷d$$sù ÇÎÈ

1.      Hai orang yang berkemul (berselimut),

2.      Bangunlah, lalu berilah peringatan!

3.      Dan Tuhanmu agungkanlah!

4.      Dan pakaianmu bersihkanlah,

5.      Dan perbuatan dosa tinggalkanlah (QS. Al Muddatstsir: 1-5)

Wahyu itu pun berhenti, tidak turun lagi. Menurut pendapat Ibn Ishaq, 3 tahun dan ada pula yang mengatakan 3,5 tahun, ada yang mengatakan selama 40 hari dan ada juga yang mengatakan 15 hari, sebagaimana ada yang mengatakan 3 hari saja. Setelah Nabi merasa sangat kecewa atas ketiadaan turun wahyu yang telah sangat dirindukannya, turunlah Surah Adl Dluha :

4ÓyՑÒ9$#ur ÇÊÈ   È@ø‹©9$#ur #sŒÎ) 4ÓyÖy™ ÇËÈ   $tB y7t㨊ur y7•/u‘ $tBur 4’n?s% ÇÌÈ   äotÅzEzs9ur ׎öy{ y7©9 z`ÏB 4’n<rW{$# ÇÍÈ   t$öq|¡s9ur y‹ÏÜ÷èムy7•/u‘ #ÓyÌ÷ŽtIsù ÇÎÈ   öNs9r& x8ô‰Égs† $VJŠÏKtƒ 3“ur$t«sù ÇÏÈ   x8y‰y`urur ~w!$|Ê 3“y‰ygsù ÇÐÈ   x8y‰y`urur Wxͬ!%tæ 4Óo_øîr’sù ÇÑÈ   $¨Br’sù zOŠÏKuŠø9$# Ÿxsù öygø)s? ÇÒÈ   $¨Br&ur Ÿ@ͬ!$¡¡9$# Ÿxsù öpk÷]s? ÇÊÉÈ   $¨Br&ur ÏpyJ÷èÏZÎ/ y7În/u‘ ô^Ïd‰yÛsù ÇÊÊÈ

  1. 1.            Demi waktu matahari sepenggalahan naik,
  2. 2.            Dan demi malam apabila telah sunyi (gelap),
  3. 3.            Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci kepadamu,
  4. 4.   Dan Sesungguhnya hari kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang sekarang (permulaan).
  5. 5.   Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu , lalu (hati) kamu menjadi puas.
    1. 6.             Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu?
    2. 7.    Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk.
    3. 8.   Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan,
      1. 9.            Sebab itu, terhadap anak yatim janganlah kamu Berlaku sewenang-wenang.
      2. 10.    Dan terhadap orang yang minta-minta, janganlah kamu menghardiknya.
      3. 11.    Dan terhadap nikmat Tuhanmu, Maka hendaklah kamu siarkan.

Sesudah itu barulah terus beriringan Al Quran diturunkan menurut kejadian-kejadian yang memerlukannya dan tidak pernah lagi wahyu terputus.

  1. 3.      Hari Penghabisan Turun Al Quran dan Tempatnya

Kebanyakan ulama menetapkan bahwa hari penghabisan turunya Al Quran ialah Hari Jum’at 9 Dzulhijjah tahun 10 H, atau tahun 63 kelahiran Nabi = Maret 632 M.

Pada saat itu Nabi sedang berwuquf di padang “arofah dalam menyelenggarakan Hajji Wada’ (Imam Ibnu Jarir). Kebanyakan ulama menafsirkan bahwa sesudah hari itu tidak ada lagi Al Quran diturunkan untuk menerangkan hukum dan Nabi pun hidup sesudahnya selama 81 malam saja. Ahli Tarikh menerapkan bahwa Nabi hidup sesudahnya selama 3 bulan lebih kurang. Sebagaimana diketahui bahwa Rasulullah wafat pada tanggal 12 Rabiul Awal tahun 11 Hijrah, hari Senin = 7 Juni 632 M.

  1. 4.         Ayat yang Terakhir Diturunkan

Menurut riwayat Muslim dari Ibnu ‘Abbas, akhir surat yang diturunkan ialah: Surah An Nashr. Demikianlah pendapat yanga masyhur dalam kalangan ulama. Dan di samping ini ada lagi beberapa riwayat lain yang diriwayatkan oleh beberapa shahaby. Yang masyhur dari padanya ialah yang telah kami sebutkan di atas. Riwayat-riwayat ini telah diterangkan As Sayuthy dalam Al Itqan.

Kata Al Imam As Sayuthy dalam Itqan: dalam menetapkan akhir ayat diturunkan, ada perselisihana ulama. Di dalam kitab itu beliau sebut beberapa riwayat. Dan yang paling rajih dalam riwayat itu ialah riwayat An Nasa’I dari jalan ‘Ikramah dari Ibnu “Abbas, dan Ibnu Abi Hatim dari Sa’is Ibnu Jubair, ujarnya: “penghabisan ayat yang diturunkan dari Al Quran, ialah:

(#qà)¨?$#ur $YBöqtƒ šcqãèy_öè? ÏmŠÏù ’n<Î) «!$# ( §NèO 4†¯ûuqè? ‘@ä. <§øÿtR $¨B ôMt6|¡Ÿ2 öNèdur Ÿw tbqãKn=ôàムÇËÑÊÈ

“Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah. kemudian masing-masing diri diberi Balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan).” (QS. Al Baqarah:281).

Dan Rasul masih hidup sesudah turun ayat ini sembilan malam, kemudian beliau wafat pda malam Senin 12 Rabi’ul Awal.

Oleh karena demikian setengah ulama mengatakan bahwa akhir ayat diturunkan mengenai hukum ialah pada hari ‘Arofah. Ayat-ayat yang turun sesudahnya tidak lagi mengenai hukum.

Dengan taufiq yang sedemikian ini dapatlah dipersatukan riwayat-riwayat yang berhubungan dengan soal ini.[3]

  1. C.      Keotentikan Al-Qur’an

Umat Islam sepakat bahwa kumpulan wahyu Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. yang disebut al-Qur’an dan yang termuat dalam mushaf, adalah otentik (semuanya adalah betul-betul dari Allah SWT), dan semua wahyu yang diterima Nabi Muhammad SAW dari Allah melalui malaikat Jibril telah termuat dalam al-Qur’an. Keotentikan al-Qur’an ini dapat dibuktikan dari kehati-hatian para sahabat Nabi memelihara sebelum ia dibukukan dan dikumpulkan. Begitu pula kehati-hatian para sahabat dalam membukukan dan memelihara penggandaannya. Sebagai salah satu mukjizat Nabi Muhammad saw., al-Qur’an adalah merupakan kitab yang keotentikannya dijamin oleh Allah, dan selalu dipelihara kemurniannya hingga akhir zaman kelak.

Demikianlah Allah menjamin keotentikan al-Qur’an, jaminan yang diberikan atas dasar Kemahakuasaan dan Kemahatahuan-Nya. Dengan jaminan itulah setiap muslim percaya bahwa apa yang dibaca dan didengarnya sebagai al-Qur’an tidak berbeda sedikit pun dengan apa yang pernah dibaca oleh Rasulullah saw.[4]

  1. Bukti-bukti dari al-Qur’an sendiri

Dr. Mustafa Mahmud, mengutip pendapat Rasyat Khalifah, juga mengemukakan bahwa dalam al-Qur’an sendiri terdapat bukti-bukti sekaligus jaminan akan keontetikannya.

Huruf-huruf hijaiyah yang terdapat pada awal beberapa surah dalam al-Qur’an adalah jaminan keutuhan al-Qur’an sebagaimana diterima Rasulullah SAW. tidak berlebih dan atau berkurang satu huruf pun dari kata-kata yang digunaka oleh al-Qur’an. Kesemuanya habis terbagi 19, sesuai dengan jumlah huruf-huruf B(i) sm All(a)h AlR(a)hm(a)n AlR(a)him. (huruf a dan i dalam kurung tidak tertulis dalam aksara bahasa Arab). Demikian pula masing-masing kata  yang menghimpun Basmalah tersebut, kesemuanya habis dibagai 19. Kata Ism terulang sebanyak 19X, kata Allah sebanyak 2698 X, sama dengan 142 X 19, sedangkan kata Al-Rahman sebanyak 57X sama dengan 3 X 19, dan Al-Rahim sebanyak 114 X, sama dengan 6 X 19.

Huruf ق (qaf) yang merupakan awal dari surah ke 50, ditemukan terulang sebanyak 57 kali atau 3×19.

Huruf-huruf kaf, ha’, ya’, ‘ayn, shad, dalam surah maryam, ditemukan 78 kali atau 4×19.

Huruf ن  (nun) yang memulai surah al-Qalam, ditemukan sebanyak 133 atau 7×19. Kedua huruf ي  (ya’) dan س (sin) pada surah Yasin masing-masing ditemukan sebanyak 285 atau 15×19. Kedua huruf ط (tha’) dan هـ  (ha’) pada surah Thaha masing-masing berulang sebanyak 342 kali, sama dengan 19×18.

Huruf huruf (ha’) dan م (mim) yang terdapat pada keseluruhan surah yang dimulai dengan kedua huruf ini, ha’mim, kesemuanya merupakan perkalian dari 114×19, yakni masing-masing berjumlah 2.166.

Bilangan-bilangan ini, yang dapat ditemukan langsung dari celah ayat al-Qur’an, oleh Rasyad Khalifah, dijadikan sebagai bukti keontetikan al-Qur’an. Karena, seandainya ada ayat yang berkurang atau berlebih atau ditukar kata dalam kalimatnya dengan kata atau kalimat yang lain, maka tentu perkalian-perkalian tersebut akan menjadi kacau.

Angka 19 diatas, yang merupakan perkalian dari jumlah-jumlah yang disebut itu, diambil dari pernyataan al-Qur’an sendiri, yakni yang termuat dalam surah al-Muddatstsir ayat 30 yang turun dalam konteks ancaman terhadap seorang yang meragukan kebenaran al-Qur’an.

Demikianlah sebagian bukti keotentikannya yang terdapat di celah-celah kitab suci tersebut.[5]

  1. Bukti-bukti Kesejarahan

Al-Qur’an Al-Karim turun dalam masa sekitar 22 tahun atau tepatnya, menurut sementara ulama, dua puluh dua tahun, dua bulan, dua puluh dua hari.

Ada beberapa faktor yang terlebih dahulu harus dikemukakan dalam hal ini, yang merupakan faktor pendukung bagi pembuktian otentisitas al-Qur’an, Yakni :

(1)        Masyarakat Arab, yang hidup pada masa turunnya al-Qur’an adalah masyarakat yang tidak mengenal baca tulis. Karena itu, satu-satunya andalan mereka adalah hafalan. Dalam hal hafalan, orang Arab bahkan sampai kini dikenal sangat kuat.

(2)        Masyarakat Arab, khususnya pada masa turunnya al-Qur’an dikenal sebagai masyarakat sederhana dan bersahaja. Kesederhanaan ini, menjadikan mereka memiliki waktu luang yang cukup, disamping menambah ketajaman pikiran dan hafalan.

(3)        Masyarakat Arab sangat gandrung lagi membanggakan kesusastraan; mereka bahkan melakukan perlombaan-perlombaan dalam bidang ini pada waktu-waktu tertentu.

(4)        Al-Qur’an mencapai tingkat tertinggi dari segi keindahan bahasanya dan sangat mengagumkan bukan saja bagi orang-orang mukmin, tetapi juga orang kafir. Berbagai riwayat menyatakan bahwa tokoh-tokoh kaum musyrik seringkali secara sembunyi-sembunyi berupaya mendengarkan ayat-ayat al-Qur’an yang dibaca oleh kaum muslim. Kaum muslim, disamping mengagumi keindahan bahasa al-Qur’an, juga mengagumi kandungannya serta meyakini bahwa ayat-ayat al-Qur’an adalah petunjuk kebahagiaan dunia dan akhirat.

(5)        Al-Qur’an, demikian pula Rasul SAW., menganjurkan kepada kaum muslim untuk memperbanyak membaca dan mempelajari al-Qur’an dan anjuran tersebut mendapat sambutan yang hangat.

(6)        Ayat-ayat al-Qur’an turun berdialoq dengan mereka, mengomentari keadaan dan peristiwa-peristiwa yang mereka alami, bahkan menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka. Disamping itu, ayat-ayat al-Qur’an turun sedikit demi sedikit. Hal itu lebih mempermudah pencernaan maknanya dan proses penghafalannya.

(7)        Dalam al-Qur’an, demikian pula hadits-hadits Nabi, ditemukan petunjuk-petunjuk yang mendorong para sahabatnya untuk selalu bersikap teliti dan hati-hati dalam menyampaikan berita – lebih-lebih kalau berita tersebut merupakan firman-firman Allah atau sabda Rasul-Nya.

Faktor-faktor di atas menjadi penunjang terpelihara dan dihafalkannya ayat-ayat al-Qur’an. Itulah sebabnya, banyak riwayat sejarah yang menginformasikan bahwa terdapat ratusan sahabat Nabi saw yang menghafalkan al-Qur’an. Bahkan dalam peperangan Yamamah, yang terjadi beberapa saat setelah wafatnya Rasulullah saw., telah gugur tidak kurang dari tujuh puluh orang penghafal al-Qur’an.[6]

  1. D.      Upaya Pemeliharaan Otentisitas Al-Qur’an Pada Masa Rasulullah

Pada masa Rasulullah upaya pemeliharaan otentisitas Al-Qur’an begitu sangat hati-hati sekali, hal ini dikarenakan karena Rasulullah saw. begitu sangat takutnya apabila al-Qur’an yang telah Allah wahyukan itu tercampur dengan perkatan selain al-Qur’an.

Ada beberapa upaya yang telah dilakukan pada masa Rasulullah saw untuk menyelamatkan kemurnian kitab suci itu. Yakni, melalui pengumpulan Al-Qur’an itu sendiri.

Istilah pengumpulan kadang-kadang dimaksudkan dengan penghafalan dalam hati, dan kadang-kadang pula dimaksudkan dengan penulisan dan pencatatan dalam lembaran-lembaran.  Pengumpulan Al-Qur’an di masa Nabi ada tiga kategori:

(1)   Pengumpulan dalam dada berupa penghafalan oleh para sahabat, dan

(2)   Pengumpulan dalam bentuk tulisan oleh para sahabat.

(3)   Penyusunan semua ayat dan surat al-Qur’an seperti sekarang

Langkah-langkah semacam ini tidak terjadi pada kitab-kitab samawy lainnya sebagaimana halnya perhatian terhadap Al-Qur’an, sebagai kitab yang maha agung dan mu’jizat Nabi Muhammad yang abadi.

  1. Pengumpulan Al-Qur’an dalam dada berupa penghafalan oleh para sahabat

Al-Qur’anul Karim turun kepada Nabi yang ummy (tidak bisa baca-tulis). Karena itu perhatian Nabi hanyalah dituangkan untuk sekedar menghafal dan menghayatinya, agar ia dapat menguasai Al-Qur’an persis sebagaimana halnya Al-Qur’an yang diturunkan. Setelah itu ia membacakannya kepada orang-orang dengan begitu terang agar merekapun dapat menghafal dan memantapkannya. Yang jelas adalah bahwa Nabi seorang yang ummy dan diutus Allah di kalangan orang-orang yang ummy pula, Allah berfirman:

uqèd “Ï%©!$# y]yèt/ ’Îû z`¿Íh‹ÏiBW{$# Zwqߙu‘ öNåk÷]ÏiB (#qè=÷Ftƒ öNÍköŽn=tã ¾ÏmÏG»tƒ#uä öNÍkŽÏj.t“ãƒur ãNßgßJÏk=yèãƒur |=»tGÅ3ø9$# spyJõ3Ïtø:$#ur

“Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul diantara mereka yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dengan mengajarkan kepada mereka kitab dan hikmah”. (Al-Jumu’ah: 2).[7]

Seperti yang telah disinggung dimuka bahwa umumnya bangsa Arab, termasuk para sahabat adalah orang-orang yang ummi (tidak bisa menulis dan membaca). Namun mereka memiliki ingatan yang kuat dan menakjubkan sebagaimana yang lazim dijumpai di kalangan masyarakat yang masih buta huruf.

Oleh karena itu, meski orang-orang Arab tersebut pada umumnya tidak bisa menulis dan membaca, mereka masih mampu membacakan ratusan bait syair dan silsilah keturunan mereka yang panjang-panjang di luar kepala serta mampu mengingat kembali berbagai macam peristiwa peperangan dan sejarah para pahlawan mereka dalam waktu yang singkat dengan tepat.[8]

Begitu Al-Qur’an datang kepada mereka dengan jelas, tegas ketentuannya dan kekuasaannya yang luhur, mereka merasa kagum, akal fikiran mereka tertimpa dengan Al-Qur’an, sehingga perhatiannya dicurahkan kepada Al-Qur’an. Mereka menghafalnya ayat demi ayat dan surat demi surat. Mereka tinggalkan syair-syair karena merasa memperoleh ruh/jiwa dari Al-Qur’an.

Ada beberapa faktor yang mendorong minat mereka untuk menghafal kitab suci Al-Qur’an itu dengan segera, yaitu :

  1. Al-Qur’an berisi berbagai ajaran dan petunjuk tentang kehidupan yang baik, beradab, dan sejahtera, baik lahir maupun batin. Ajaran-ajaran dan petunjuk-petunjuk tersebut belum pernah mereka miliki sebelumnya. Untuk menjaga agar ajaran-ajaran dan petunjuk-petunjuk tersebut tidak hilang, mereka segera menghafal ayat-ayat al-Qur’an yang telah mereka terima itu dengan sebaik-baiknya.
  2. Belajar membaca dan mengajarkan al-Qur’an kepada orang lain merupakan kegiatan ibadah yang paling utama dalam Islam.
  3. Orang yang terbaik dalam membaca al-Qur’an dan terbanyak hafalannya akan mendapat prioritas untuk ditunjuk menjadi imam shalat berjama’ah.
  4. Rasulullah saw sendiri telah memerintahkan kepada para sahabat agar selalu memelihara al-Qur’an dengan sebaik-baiknya. Selain memerintahkan, Rasulullah saw juga mengingatkan kepada para sahabat yang telah melupakan ayat-ayat al-Qur’an yang telah dihafalnya.[9]

Dengan adanya dorongan beberapa faktor itulah, dapat kita simpulkan bahwa sebelum Rasulullah saw wafat, seluruh isi al-Qur’an telah terpelihara secara utuh dalam hafalan sejumlah besar sahabat.

  1. Pegumpulan dalam bentuk tulisan oleh para sahabat

Di samping telah menyuruh dan mendorong minat para sahabat untuk menghafal al-Qur’an, Rasulullah saw juga telah menyuruh mereka menuliskan ayat-ayat dari kitab suci itu ke atas benda apa saja yang bisa ditulisi, seperti pelepah tamar, kepingan batu, potongan kayu, sobekan kain, keratin tulang, dan lembaran kulit binatang yang sudah disamak. Praktik yang demikian itu telah dijelaskan oleh ‘Utsman ibn ‘Affan ra., berikut ini:

Surat yang banyak ayatnya sering diturunkan kepada Rasulullah saw. Karena itu, apabila sesuatu dari surat itu diturunkan, beliau memanggil beberapa orang yang dapat menulis, kemudian beliau memanggil beberapa orang yang dapat menulis seraya berkata, “Letakkanlah ayat-ayat ini di surat yang di dalamnya disebutkan begini-begini. Surat al-Anfal termasuk surat-surat yang pertama kali diturunkan di Madinah dan surat al-Baraah termasuk surat yang terakhir diturunkan, padahal surat itu sama ceritanya dengan surat al-Anfal. Karena itu, aku menganggapnya merupakan bagian dari surat al-Anfal. Rasulullah saw wafat dan beliau tidak pernah menjelaskan hal itu kepada kami.[10]

Rasulullah SAW mempunyai beberapa orang sekretaris wahyu. Setiap turun ayat Al-Qur’an beliau memerintahkan kepada mereka menulisnya, untuk memperkuat catatan dan dokumentasi dalam kehati-hatian beliau terhadap kitab Allah ‘Azza Wa Jalla, sehingga penulisan tesebut dapat melahirkan hafalan dan memperkuat ingatan.

Penulis-penulis tersebut adalah sahabat pilihan yang dipilih oleh Rasul dari kalangan orang yang terbaik dan indah tulisannya agar mereka dapat mengemban tugas yang mulia ini.[11]

Jumlah sahabat yang telah menuliskan al-Qur’an cukup banyak dan tidak kurang dari 43 orang. Yang terkenal, antara lain Abu Bakar, Umar ibn al-Khaththab, Usman ibn Affan, Ali ibn Abi Thalib, Abu Sufyan dan dua orang putranya, yaitu Mu’awiyah dan Yazid, Zaid ibn Tsabit, Sa’id ibn al-‘Ash dan dua orang putranya, yaitu Abban dan Khalid, Zubair ibn al-Awwam, Thalhah ibn ‘Ubaidillah, Sa’ad ibn Abi Waqqash, Amir ibn Fuhairah, Abdullah ibn Rawahah, Abdullah ibn Sa’id ibn Sarah, Ubai ibn Ka’ab, Tsabit ibn Qais, Hanzhalah ibn al-Rabi’, Syurahbil ibn Hasanah, ‘Ala ibn al-Hadlrami, Khalid ibn al-Walid, ‘Amr ibn ‘Ash, Mughirah ibn Syu’bah, Mu’aiqib ibn Abi Fathimah, Huzaifah al-Yamani, dan Huwaithib ibn Abd al-‘Uzza al-Amiri.

Mereka itu semuanya disebut katibu al-wahyi (para penulis wahyu). Meskipun demikian, yang paling sering bersama Rasulullah saw dan paling banyak menuliskan ayat-ayat al-Qur’an yang diturunkan di Madinah adalah Zaid ibn Tsabit. Hal ini dikarenakan ia adalah sekretaris pribadi Rasulullah saw. Sesuai dengan jabatannya itu, maka ia selalu menyertai Rasulullah saw ke mana dan di mana saja beliau berada dan ia pula yang pertama kali diminta beliau untuk menuliskan sesuatu yang diperlukan, termasuk menuliskan ayat-ayat al-Qur’an yang baru diturunkan. Adapun para penulis wahyu yang lain baru diminta Rasulullah saw untuk menuliskan ayat-ayat al-Qur’an apabila Zaid ibn Tsabit berhalangan. Itulah sebabnya, ayat-ayat al-Qur’an yang ditulis oleh penulis-penulis wahyu itu tidak sebanyak ayat yang ditulis Zaid.[12]

Perhatian Rasulullah saw terhadap penulisan ayat-ayat al-Qur’an tidak hanya setelah beliau berada di Madinah, tetapi juga selagi beliau masih berada di Mekkah. Meskipun pada waktu itu jumlah kaum Muslim masih sedikit dan sarana untuk penulisan masih langka serta kesempatan untuk menuliskan ayat-ayat al-Qur’an masih terbatas, catatan-catatan atau naskah-naskah yang berisi ayat-ayat al-Qur’an dapat saja beredar di antara mereka.[13]

Akhirnya, dari uraian  di atas dapat disimpulkan bahwa semua ayat al-Qur’an yang telah diturunkan kepada Nabi Muhammad saw telah ditulis oleh para penulis wahyu sebagaimana yang telah didiktekan beliau kepada mereka, tanpa mengalami perubahan sedikit pun.

  1. Penyusunan Semua Ayat Dan Surat Al-Qur’an Seperti Sekarang 

Untuk menjaga kemurnian al-Qur’an, maka Rasulullah saw tidak hanya menyuruh para sahabat menghafal dan menuliskan ayat-ayat al-Qur’an secara utuh, tetapi juga sekaligus menetapkan ayat-ayat al-Qur’an pada suratnya masing-masing.

Ada beberapa riwayat yang menyatakan bahwa Rasulullah saw telah memerintahkan kepada para penulis wahyu untuk meletakkan ayat-ayat al-Qur’an pada suratnya masing-masing. Di samping itu, masih banyak lagi riwayat yang berisi dukungan terhadap pernyataan tersebut. Misalnya, seperti sabda Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh Abu Darda,’Siapa saja yang telah menghafal 10 ayat dari permulaan surat al-Kahfi, ia akan terpelihara dari fitnah Dajjal.’ Begitu pula dengan sabda Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh Umar ra. Katanya, “Ia sering bertanya kepada Rasulullah saw tentang masalah kalalah.” Beliau kemudian menusukkan jari-jari beliau ke dadanya seraya bersabda, “Ayat shaif yang terdapat di surat an-Nisa sudah cukup untukmu.”

Ketiga hadis terakhir tersebut telah memberikan isyarat kepada kita bahwa ayat-ayat al-Qur’an telah tersusun secara berurutan. Sebab, jika tidak dipahami demikian, bagaimana mungkin seorang sahabat dapat mengetahui urutan ayat-ayat al-Qur’an di dalam suatu surat sebagaimana yang telah disebutkan dalam ketiga riwayat tersebut kalau tidak ada susunan ayat al-Qur’an pada setiap surat yang telah baku dan diikuti oleh semua orang.

Selain itu, telah pula terbukti bahwa Rasulullah saw telah membaca beberapa surat al-Qur’an, seperti al-Baqarah, Ali-Imran, dan an-Nisa yang ayat-ayatnya masing-masing sudah tersusun secara konsisten, baik dalam shalat maupun khutbah Jum’at dengan didengar oleh para sahabat. Demikian pula, Rasulullah saw telah membaca surat al-A’raf pada shalat maghrib, membaca surat Alif Lam Mim Tanzil al-Kitab la raiba fih al-Sajdah dan surat Hal ata ‘ala al-Insan al-Dahr pada shalat Subuh Jum’at dan membaca surat al-Jum’ah dan surat al-Munafiqun pada shalat Jum’at serta membaca surat Qaf dalam khutbah beliau.

Riwayat-riwayat di atas juga telah membuktikan kepada kita bahwa pada masa Rasulullah saw ayat-ayat al-Qur’an telah disusun beliau satu-per satu secara berurutan dalam surat masing-masing. Para sahabat juga jika membaca dan menghafal suatu surat atau beberapa surat al-Qur’an atau seluruh isi al-Qur’an selalu mengikuti susunan ayat yang telah mereka dengar dari Rasulullah saw.[14]

Di samping itu lagi, bagaimana mungkin para sahabat dapat secara terus-menerus membaca dan menghafal al-Qur’an yang berisi berbagai macam tuntutan dan banyak ayat itu, – baik pada waktu shalat maupun pada waktu di luar shalat, baik pada waktu belajar maupun waktu mengajarkan al-Qur’an kepada orang lain – jika tidak ada susunan dan urutan ayat yang sudah baku dan tetap pada setiap surat? Jika kepada setiap orang diberikan kebebasan membaca al-Qur’an menurut susunannya sendiri, akan terdapat berbagai versi susunan ayat pada setiap surat. Kalau sudah demikian jadinya, akan muncul kesulitan di kalangan sahabat untuk mengontrolnya dan mengoreksi terjadinya kesalahan baca, padahal Rasulullah saw sendiri telah berpesan, “Apabila salah seorang di antara kalian telah membuat kesalahan atau tertinggal suatu ayat dalam shalatnya, yang mendengarnya harus meluruskannya dan memberitahukan ayat yang tertinggal itu.

Dengan demikian, dapat dipastikan bahwa pada masa Rasulullah saw semua ayat al-Qur’an telah disusun oleh beliau dalam suratnya masing-masing. Bahkan, menurut al-Zarkasyi dalam al-Burhan fi ‘Ulum Alqur’an dan al-Suyuthi dalam al-Itqan fi ‘Ulum Alqur’an, seluruh kaum Muslim juga sudah sepakat tentang hal itu.[15]

Menurut riwayat al-Bukhari dari Abi Hurairah dan Fathimah binti al-Rasul bahwa Jibril setiap tahun mengontrol bacaan Rasulullah saw dan membandingkannya dengan bacaannya sendiri. Pada tahun wafatnya Rasulullah saw, Jibril telah pula melakukan hal; yang sama sebanyak dua kali. Menurut al-Sayuthi, pada waktu Jibril mengontrol dan mengevaluasi bacaan Rasulullah saw untuk terakhir kalinya Zaid ibn Tsabit ikut menyaksikannya.[16]

Rasulullah saw berpulang kerahmatullah di saat al-Qur’an telah dihafal dan tertulis dalam mushaf dengan susunan seperti disebutkan di atas; ayat-ayat dan surah-surah dipisah-pisahkan, atau ditertibkan ayat-ayatnya saja dan setiap surat berada dalam satu lembaran secara terpisah dan dalam tujuh huruf, tetapi Qur’an belum dikumpulkan dalam satu mushaf yang menyeluruh (lengkap). Bila wahyu turun segeralah dihafal oleh para qurra dan ditulis oleh para penulis; tetapi pada saat itu belum diperlukan membukukannya dalam satu mushaf, sebab Nabi masih selalu menanti turunnya wahyu dari waktu ke waktu. Di samping itu terkadang pula terdapat ayat yang me-nasikh (menghapuskan) sesuatu yang turun sebelumnya. Susunan atau tertib penulisan al-Qur’an itu tidak menurut tertib nuzulnya, tetapi setiap ayat yang turun dituliskan di tempat penulisan sesuai dengan petunjuk Nabi – ia menjelaskan bahwa ayat anu harus diletakkan dalam surat anu. Andaikan (pada masa Nabi) al-Qur’an itu seluruhnya dikumpulkan di antara dua sampul dalam satu mushaf, hal yang demikian tentu akan membawa perubahan bila wahyu turun lagi.

Sesudah berakhir masa turunnya dengan wafatnya Rasulullah saw., maka Allah mengilhamkan penulisan mushaf secara lengkap kepada para Khulafa’ur Rasyidin sesuai dengan janji-Nya yang benar  kepada umat ini tentang jaminan pemeliharaan-Nya. Dan hal ini terjadi pertama kalinya pada masa Abu Bakar atas pertimbangan usulan Umar.[17]

  1. E.       Penutup

Dari uraian makalah di atas maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:

  • Bahwasanya al-Qur’an pada masa Rasulullah saw diturunkan secara bertahap sesuai kondisi dan kebutuhan Nabi pada saat berdakwah kepada umatnya pada masa itu, selama 22 tahun 2 bulan 22 hari atau tepatnya menjelang beliau wafat semua ajaran al-Qur’an itu telah diimani dan diamalkan oleh semua orang yang hidup di jazirah Arab. Semua struktur, tatanan dan konstalasi kehidupan mereka mengalami perubahan, sesuai dengan yang diajarkan oleh al-Qur’an, baik yang berkenaan dengan kepercayaan maupun sikap, kekeluargaan, pergaulan, kemasyarakatan, dan sebagainya
  • Seluruh Umat Islam di dunia sepakat bahwa kumpulan wahyu Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. yang disebut al-Qur’an dan yang termuat dalam mushaf, adalah otentik (semuanya adalah betul-betul dari Allah SWT), dan semua wahyu yang diterima Nabi Muhammad SAW dari Allah melalui malaikat Jibril telah termuat dalam al-Qur’an. Keotentikan al-Qur’an ini dapat dibuktikan dari kehati-hatian para sahabat Nabi memelihara sebelum ia dibukukan dan dikumpulkan. Begitu pula kehati-hatian para sahabat dalam membukukan dan memelihara penggandaannya. Sebagai salah satu mukjizat Nabi Muhammad saw., al-Qur’an adalah merupakan kitab yang keotentikannya dijamin oleh Allah, dan selalu dipelihara kemurniannya hingga akhir zaman kelak.
  • Pada masa Rasulullah upaya pemeliharaan otentisitas Al-Qur’an begitu sangat hati-hati sekali, hal ini dikarenakan karena Rasulullah saw. begitu sangat takutnya apabila al-Qur’an yang telah Allah wahyukan itu tercampur dengan perkatan selain al-Qur’an. Demikian beberapa upaya yang telah dilakukan pada masa Rasulullah saw untuk menyelamatkan kemurnian kitab suci itu. Yakni, melalui pengumpulan Al-Qur’an itu sendiri.
  • Pengumpulan Al-Qur’an di masa Nabi ada tiga kategori:
  1. Pengumpulan dalam dada berupa penghafalan oleh para sahabat, dan
  2. Pengumpulan dalam bentuk tulisan oleh para sahabat.
  3. Penyusunan semua ayat dan surat al-Qur’an seperti sekarang

Demikianlah sekelumit pembicaraan dan bukti-bukti yang dikemukakan para ulama dan pakar, menyangkut keotentikan ayat-ayat al-Qur’an dan upaya-upaya yang telah dilakukan Rasulullah saw dalam memelihara kemurnian kitab suci al-Qur’an itu sendiri sebagai Mukjizat yang telah diturunkan oleh Allah kepada beliau, untuk diwasiatkan kepada umatnya sebagai pedoman dan pegangan hidup  sampai hari Kiamat kelak. Terlihat bagaimana Allah menjamin terpeliharanya Kitab Suci ini, antara lain berkat upaya kaum beriman.

 

Daftar Pustaka

 

Athaillah, M.Ag., H.A, Prof. Dr., Sejarah Al-Qur’an, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2010.

Shihab, M. Quraish, Membumikan Al-Qur’an, PT Mizan Pustaka, Bandung, 2004.

Qattan, Manna, Studi Ilmu-ilmu Qur’an, (diterjemahkan oleh Drs. Muzakir AS dari kitab aslinya Mabahis  fi ‘Ulumil Qur’an), Cet.ke-8, Pustaka Litera AntarNusa, Bandung, 2004.

http://curahmalang-curahmalang.blogspot.com/2011/03/sejarah-pengumpulan-al-quran.html., accessed 14 September 2011


[1] ayat Ini memberikan jaminan tentang kesucian dan kemurnian Al Quran selama-lamanya.

[2] H.A. Athaillah, Sejarah Al-Qur’an (Verifikasi tentang Otentisitas al-Qur’an), Cet. Ke-1, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar., 2010), h. 180-181

[4]  M. Quraish Shihab, Membumikan Al-Qur’an, cet. ke-27, (Bandung: PT Mizan Pustaka, 1425H/2004M), h. 21.

[5] Ibid., h. 21-23.

[6] Ibid., h. 23-24.

[8] H.A. Athaillah, op.cit., h.182

[9] Ibid., h. 182-187

[10] Ibid., h. 195-196.

[12] H.A. Athaillah, op.cit.,  h.195-197.

[13] H.A. Athaillah, op.cit.,  h. 197.

[14] Ibid., h. 203-204.

[15] Ibid, h. 206.

[16] Ibid, h. 211-212.

[17] Manna Khalil al-Qattan, Studi Ilmu-ilmu Qur’an, Penj. Muzakir AS., Cet. 8 (Bogor : Pustaka Litera AntarNusa, 2004), h. 187

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: